Rabu, 09 Mei 2018

Bahagia memiliki Anak dengan Usia yang Berdekatan



(Sharing Pengalaman Memiliki Anak dengan Jarak usia 1-2 tahun)

Disclaimer: tulisan ini tidak mengajak para pembaca untuk memiliki anak dengan jarak usia yang berdekatan. Hanya sekedar sharing tentang pengalaman pribadi.

Ken
-          Bu, coklatnya bagi dua ya. Kasih ade ya
-          Sini dek sini… Kakak gendong ya. Hati-hati ya
-          Bu, adek marah
-          Dek, bilang oke dek. Oke (sambil menunjukan jempol)
-          Sekarang giliran adek ya. Adek sebelah sini. Ayo...

Keenan
-          Punya kakak… punya kakak (menunjuk baju kakak)
-          Ini… ini… (Ngasih kakaknya mainan atau makanan)
-          Ayo ayo (nganterin kakaknya ngambil mainan di lantai bawah)
-          Ngeeeeng (ngedorong kakak yang ada di dalam box mainan)

Setiap hari, saya mendengarkan kata-kata ini dari anak-anak saya. Hal ini membuat saya takjub dan merasa sangat bersyukur. Ditengah banyaknya info yang mengatakan bahwa anak yang jarak lahirnya berdekatan akan menimbulkan kecemburuan, kekurangan kasih sayang, dan berbagai dampak negatif lainnya, saya sendiri justru menemukan banyak hal positif di anak-anak saya yang jarak kelahirannya hanya 20 bulan.
Melihat kakak Ken yang begitu empati dan mampu berbagi dengan adiknya diusia semuda itu membuat hati saya betul-betul meleleh. Tak jarang Ken menunjukan rasa pedulinya kepada adik dengan cara menyuapi makanan, berbagi hal-hal yang dia suka, menggendong adik saat kesulitan turun dari kursi, mengelus kepala adik saat terantuk meja, dan berbagai hal lainnya yang saya tidak sangka bisa ia lakukan di usia semuda itu.
Dan hal yang samapun saya temukan di diri adiknya, Keenan. Ia terlihat sudah menunjukan kepedulian kepada kakak. Ketika bermain, ia selalu memberikan mainan milik kakaknya. Ketika memilih makanan di toko, ia selalu memilihkan kakaknya makanan yang sama. Ketika kakaknya meminta ditemani mengambil mainan di lantai bawah, ia akan dengan senang hati menemani kakak. Saat bangun tidur, kakaknya adalah orang yang pertama kali ia cari. Semua pemandangan tersebut membuat saya merasa bersyukur telah memiliki mereka dalam waktu yang relatif sangat cepat.
Kenapa saya bahagia memiliki anak dengan jarak usia yang berdekatan?
Perlu saya katakan bahwa saya punya 1001 jawaban untuk pertanyaan ini. Tapi disini, saya akan sharing beberapa hal:
1.      “Tangki Cinta” saya lebih cepat penuh dengan kehadiran kedua anak saya. Bagaimana tidak, setiap hari, selalu ada dua orang laki-laki yang mencari saya dari mereka bangun tidur hingga tertidur lagi. Setiap hari, ada dua orang laki-laki yang selalu menggengam tangan saya dengan erat sebelum mereka terlelap. Setiap hari, ada yang “cemburu” setiap kali saya dipeluk oleh suami saya. Setiap hari, ada yang memuji masakan saya meskipun itu hanya telur mata sapi. Setiap hari, ada yang memuji saya pintar meski yang saya lakukan hanya membuka kulkas atau menyusun menara dari balok. Semua hal ini membuat “tangki cinta” saya tidak pernah kosong
2.      Sebagai seorang ibu, saya merasa lebih cekatan dan pragmatis ketika saya memiliki dua anak balita. Dan hal ini justru mengurangi rasa stress yang saya alami selama melakukan pengasuhan karena lebih banyak yang saya “lakukan” dibandingkan yang saya “pikirkan”.
3.      Saya merasa lebih punya banyak kesempatan untuk belajar sebagai ibu. Saat baru memiliki anak pertama, sayapun merasa banyak mengalami kebingungan, apalagi saat ini banyak sekali informasi mengenai dunia parenting yang bisa kita temui dengan mudah dan tidak jarang berbenturan satu sama lain. Terkadang, saya masih sering bertanya-tanya, betul tidak ya apa yang sudah saya lakukan?
Saat memiliki dua anak, saya menjadi lebih mudah untuk menemukan jawaban tersebut karena lebih ada “pembanding”. Ketika saya memberlakukan suatu hal kepada kedua anak saya dan hasilnya sama, bisa jadi metode itu memang konsisten untuk menghasilkan suatu “output” tertentu. Dan banyak lagi hal-hal yang bisa saya pelajari selama mengasuh dua karakter yang berbeda di anak-anak saya.
4.      Sebagai seorang wanita yang setiap hari perlu mengeluarkan 20.000 kata, saya merasa memiliki penyaluran yang tepat. Setiap hari, ada dua orang yang meminta saya menyanyi lebih banyak lagu, bercerita lebih banyak kisah, dan mendapatkan lebih banyak“nasihat” dari saya Sehingga semua kata-kata yang saya keluarkan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.
5.      Melalui pengalaman mengasuh dua anak balita sekaligus, saya belajar bahwa ada hal-hal yang perlu kita alami untuk bisa paham, tidak hanya sekedar tahu atau bersumber pada kalimat “katanya”.
6.      Dalam keseharian, seringkali saya hanya bertindak sebagai “supervisor”. Saya tidak perlu menemani secara khusus ketika bermain karena mereka sudah bisa menjadi teman satu sama lain. Saya hanya akan membantu anak-anak ketika mereka menemukan konflik yang tidak bisa mereka pecahkan bersama. Biasanya kedua anak saya sudah bisa main berdua dan saya hanya duduk leyeh-leyeh menyaksikan kebersamaan mereka.
7.      Dalam perjalanan hidup saya, bisa dibilang saya dibesarkan sebagai anak tunggal. Saya lebih sering berada sendiri dirumah. Hal ini membuat saya perlu berlatih lebih keras untuk dapat berbagi dengan orang lain, bersosialisasi, berempati, dan memahami situasi sosial. Namun, di keluarga kecil saya saat ini, saya merasa kami mendapatkan sarana untuk melatih keterampilan-keterampilan tersebut di rumah kami sendiri lebih dini. Seperti yang telah saya ceritakan di awal, ternyata Ken dan Keenan sudah bisa berbagi hal-hal yang mereka sukai meski usia mereka masih muda.
8.      Dari sekian banyak alasan kenapa saya berbahagia, ada satu hal yang terasa begitu istimewa. Ketika airmata saya hampir menetes karena permasalahan hidup yang lain, ada tangan-tangan mereka yang selalu menghapus airmata saya. Mereka selalu menatap saya dengan lekat seakan-akan tidak mengijinkan saya untuk merasakan kesedihan tersebut. Lalu memeluk saya dengan erat sehingga saya kembali kuat. Hal ini yang memuat saya merasa tidak punya kesempatan untuk bersedih setiap harinya.

Lantas, bagaimana saya bisa bahagia? Apakah semua hal yang saya sebutkan sebelumnya datang begitu saja?
Well, setidaknya ada dua hal yang saya lakukan sehingga saya bisa menjadi sangat bahagia seperti saat ini, yaitu:
1.      Merasa dipercaya mengurus dua kantor cabang sekaligus dalam waktu dekat
Bagi saya, anak adalah “pekerjaan” dan amanah yang langsung diberikan oleh Tuhan kepada saya. Dan bagi saya lagi, dipercayakan memiliki dua anak dalam waktu yang relatif singkat ibarat seorang manajer yang dipercayakan mengurus dua kantor cabang meskipun ia baru saja bekerja. Semoga ini bukan rasa takabur atau ujub, tapi saya justru sangat menikmati berbagai kesibukan saya karena saya merasa mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari Tuhan. Dan hal ini yang membuat saya tidak merasakan kelelahan atau terbebani dengan kehadiran anak-anak saya.
2.      Sebagai sarana pencuri hati Tuhan.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, bagi saya anak adalah pemberian langsung dari Tuhan. Dan siapapun dia, pasti senang jika kita berterima kasih dan menjaga pemberiannya, termasuk Tuhan. Hal ini yang memotivasi saya untuk tidak banyak mengeluh dan hanya fokus berbuat yang terbaik kepada pemberian Tuhan ini. Dan sekali lagi, semoga ini bukan suatu sikap sombong atau PD yang berlebihan, tapi saya merasa, dengan cara menjaga pemberian-Nya dan tidak mengeluh, disitulah hati Tuhan berhasil saya curi sehingga saya diberikan rasa bahagia yang sangat besar dari hari ke hari.

Yup. Itu dia sedikit sharing saya tentang pengalaman selama mengasuh anak yang memiliki jarak usia yang berdekatan. Semoga bisa menjadi kebaikan bagi bersama.

“Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang bahagia, tapi saya bersyukur saya berbahagia di jalan yang di ridhoi Tuhan
-namasayaernawati-

Wallahu a'lam bish-shawab.

Kamis, 26 April 2018

Cerita Fiksi: PERTENGKARAN PERI


Oleh Ernawati Nandhifa
Di salah satu kerajaan peri, terdapat dua peri kakak beradik. Mereka bernama peri Ken dan Keenan. Peri Ken adalah peri yang kuat dan suka bermain bola. Sedangkan peri Keenan adalah peri yang jago masak dan suka makan. Meskipun mereka memiliki hobi yang berbeda, mereka berdua sangat rukun dan tidak pernah bertengkar. Kerukunan mereka terkenal hingga ke seluruh negeri peri.
Peri Bimo tidak suka melihat hal ini. Ia yang tidak punya adik atau kakak sehingga merasa iri terhadap kerukunan peri Ken dan Keenan. Akhirnya, peri Bimo berencana untuk membuat peri Ken dan Keenan bertengkar.
Di suatu siang, peri Bimo menghampiri peri Ken yang sedang asyik bermain bola sendirian.
“Halo peri Ken,” kata peri bimo yang tiba-tiba keluar dari semak-semak.
“Wah kau mengejutkanku peri Bimo”, peri Ken terperanjat karena kehadiran peri Bimo yang tiba-tiba.
“Hehe. Maaf ya aku mengintip kamu yang sedang bermain bola. Dan menurutku permainan bolamu sangat hebat. Pantas jika kau sering mendapatkan pujian teman-teman”, peri bimo mengacungkan jempolnya ke arah peri Ken.
“Ah kamu bisa saja. Aku masih perlu banyak latihan kok”, kata peri Ken sambil tersipu.
“Tapi sayang ya. Adikmu sendiri justru tidak mengakuinya”.
“Adikku? Maksudmu peri keenan?”
“Iya. Dia bilang kamu pemain bola yang payah. Makanya setiap hari butuh latihan”
“Benarkah ia berkata seperti itu?” peri Ken terlihat ragu.
“Tentu saja. Aku tidak mungkin berbohong.  Aku kan penggemarmu,” peri Bimo berbohong.
“Huh, menyebalkan sekali dia”, peri Ken mendengus kesal.
“Iya. Tapi kau jangan beri tahu kalau aku yang mengatakannya kepadamu ya. Nanti dia marah kepadaku,” kata peri Bimo sambi menaruh telunjuk di bibirnya.
“Baik. Terima kasih banyak ya atas infonya. Kau memang sahabatku,” peri Ken melingkarkan tangannya ke pundak peri bimo
“Yes, rencanaku berhasil!” pekik peri Bimo dalam hati.

***
Keesokan hariya, peri Bimo mendatangi peri Keenan yang sedang memasak sambil bersenandung.
“Du du ru dududu… hm masakan ini harum sekali. Aku jadi ingin segera memakannya”, peri Keenan menyendok sop dari kuali kemudian mencicipinya.
“Tok-tok-tok, ini aku. Peri Bimo. Apa boleh aku masuk?” kata peri Bimo dari balik pintu
“Hai peri bimo, tentu saja kau boleh masuk. Ayo mari-mari. Cicipi masakanku yang baru saja matang. Rasanya sangat enak sekali,” Peri Keenan langsung membukakan pintu dan mengajak peri Bimo untuk mencicipi masakannya. Peri Bimo pun langsung menyantap makanan yang dsajikan oleh peri keenan.
“Hm ini enak sekali. Benar yang dikatakan para peri lain kalau kau pandai memasak. Kecuali…” kata peri Bimo ragu-ragu.
“Kecuali apa?” Peri Keenan mulai penasaran.
“Kecuali kakakmu. Peri Ken bilang kau payah dalam memasak. Kau hanya tukang makan,” kali ini peri Bimo berbohong kepada peri Keenan.
“Benarkah peri Ken berkata seperti itu?”
“Iya betul”
Peri Keenan terdiam.
“Aku tahu kau tidak akan percaya. Akupun tidak percaya jika tidak mendengarnya sendiri,” kata peri Bimo yang melihat keraguan di wajah peri Keenan.
“Ah tenanglah. Aku percaya padamu. Sudah tidak usah dipikirkan. Bagaimana kalau kita makan saja.  Ini adalah resep spesialku”, kata peri Keenan mengalihkan pembicaraan. Peri Bimo pun  menurutinya dan menghabiskan semangkuk sop yang sangat lezat

***
Suatu malam, peri Ken dan peri Keenan sedang makan bersama yah dan ibu. Namun, setiap makanan yang ingin diambil oleh peri Ken, pasti diambil oleh peri keenan.
“Hei. Ada apa dengan kamu ini. Setiap makanan yang ingin aku ambil, pasti kau ambil. Dasar kau tukang makan!” Kata peri Ken sambil kesal.
“Apa? Kau bilang aku tukang makan? Ternyata benar yang dikatakan orang. Kau sering mengolok-olokkku sebagai tukang makan dan tidak pandai memasak,” kata peri Keenan sambil melipat tangannya di dada.
“Aku tidak pernah bilang kau tidak pandai memasak,” peri Ken membela diri.
“Alah kamu tidak usah mengelak. Barusan aku mendengar kalau kamu bilang aku tukang makan,” peri keenan mendengus kesal.
“Itu karena aku kesal kamu selalu mengambil makanan yang ingin aku ambil. Dan tunggu. Kamu juga bilang kalau permainan bolaku payah kepada teman-teman kan?” kali ini peri Ken juga melipat tangannya di dada sambil mengalihkan pandangan. Ia sudah kehilangan selera makan.
“Apa kamu bilang? Aku tidak pernah berkata seperti itu.”
“Sudahlah. Jangan bohong deh. Aku tahu kamu bilang seperti itu ke teman-teman”.
“Peri Ken, peri Keenan, ada apa ini?” Ayah yang sedari tadi hanya menyaksikan peri Ken dan Keenan bertengkar mencoba untuk menengahi.
“Itu yah. Peri ken nakal. Kata temanku, ia bilang kalau aku tidak bisa masak dan hanya tukang makan,” Peri Keenan merajuk kepada ayahnya.
“Oh begitu. Apakah benar peri ken?” ayah bertanya kepada peri Ken
“Tidak yah. Itu tidak benar. Aku tidak pernah berkata seperti itu. Malah menurut temanku, Keenan bilang bahwa permainan bolaku jelek. Dan aku sebal sekali karena itu,” kata peri Ken sambil hampir menangis.
“Benarkah peri Keenan?,” Kali ini ayah bertanya kepada peri Keenan.
“Tidak yah tidak benar. Aku tidak pernah berkata seperti itu. Menurutku, permainan bola kakak adalah yang terbaik yang pernah aku lihat,” kata peri Keenan perlahan-lahan. Ia sebetulnya tidak ingin memuji kakaknya karena sedang kesal.
“Baiklah. Sekarang kalian sudah saling mendengar penjelasan masing-masing kan. Nah, sekarang ayah mau tanya kepada peri Ken, siapa yang mengatakan kalau adikmu bilang permainan bolamu jelek?”
“Bimo yah,” Peri Ken langsung menjawab pertanyaan ayah
“Benarkah? Bimo juga yang mengatakan kepadaku kalau kau yang bilang aku tukang makan. Jangan-jangan bimo yang merencanakan ini semua agar kita bertengkar,” tiba-tiba peri Keenan langsung menyerocos.
“Peri keenan, tenang dulu. Tidak baik menuduh orang seperti itu. Sebaiknya  kita selidiki dulu. Nah, untuk mengetahui kebenarannya, ayah punya rencana. Tapi rencana ini perlu kalian lakukan secara bersama-sama. Jadi kalian perlu berbaikan. Apakah kalian mau?” kata ayah sambil melihat kedua anaknya
“Mau yah,,” kata peri Ken sambil melihat ke arah peri Keenan. Peri Keenan tidak mengiyakan ajakan ayahnya. Ia hanya cemberut sambil melihat kakaknya.
“Maafkan aku ya dik. Sebaiknya kita bermaaf-maafan agar bisa melaksanakan rencana ayah” kata peri Ken sambil menenagkan adiknya.
“Baiklah aku maafkan. Lagipula aku tidak pernah merasa mengolok-olok kakakku sendiri. Jadi buat apa aku marah,” peri Keenan menyalami tangan kakaknya. Peri Kenpun balas memeluknya
“Nah begitu dong. Itu baru anak ayah. Sekarang, ayo mendekatlah kemari. Ayah akan membisikan rencana ayah,” kata ayah sambil mendekatkan mulutnya ke kuping Ken dan Keenan.




***
Tok tok tok
Peri Bimo mengetuk pintu rumah peri Keenan.

“Hai peri Bimo. Silahkan masuk”, sambut peri Keenan sambil membukakan pintu.

“Terima kasih,” peri Bimo membalas sambutannya dan melangkahkan kaki ke dalam rumah peri Keenan.

“Duduklah disini. Aku sudah menunggumu dari tadi. Aku juga sudah membuatkan kue coklat khusus buatmu,” Peri Keenan menyodorkan sebuah kue coklat yang sangat besar.

“Wah ini terlihat lezat sekali. Terima kasih ya sudah mengundangku ke rumahmu,”kata Peri Bimo sambil tersenyum.

“Sama-sama. Aku senang kamu bisa main kesini Sekarrang kamu makan saja dulu kue buatanku.”

“Baiklah,” kata peri Bimo sambil memasukan potongan kue ke mulutnya.

Uhuk-uhuk...

Tiba-tiba peri Bimo batuk-batuk.

“Kenapa peri Bimo?”

“Hm... tidak apa-apa. Hanya saja...”

“Hanya saja apa?”

“Tidak. Lupakan saja. Kuemu enak. Hehhehe. Ngomong-ngomong, ada apa kau mengundangku 
kesini?”, kata peri Bimo.

“Tidak. Aku hanya ingin menanyakan kembali, apa benar wakt itu kakakku bilang kalau masakanku tidak enak?”

“Iya benar. Apa kamu tidak percaya?”

“Bukan seperti itu. Aku percaya. Hanya saja kakakku tidak pernah mengatakannya secara langsung kepadaku. Dan selama ini kami selalu rukun.”

“Kakakmu memang hanya mengatakannya kepada teman-teman. Dan dia bilang jangan sampai kau tahu”

“Itu tidak benar!” Tiba-tiba peri Ken yang sembunyi di dalam kamar langsung keluar dan membuat peri Bimo kaget.

“Pe... peri Ken”

“Ternyata kau mengadu domba kami ya. Kau bilang kepadaku kalau adikku bilang permainan bolaku payah. Dan kau ilang kepada adikku kalau aku mengatakan masakannya tidak enak,” kata peri Ken.

“Mengapa kau lakukan ini?” kali ini peri Keenan yang marah sambil menolakan tangannya di pinggang.

“Aku... aku tidak suka melihat kalian berdua rukun karena aku iri. Aku ingin punya saudara yang rukun seperti kalian,” peri Bimo tertunduk

“Tapi kau tidak perlu membuat kami bertengkar tahu!” Peri Keenan mulai sewot.

“Peri Keenan, tenangkan dirimu,” Peri Ken menyentuh pundak adiknya agar lebih tenang.

“Habis aku kesal kak!”

“Sudah-sudah. Walau bagaimanapun peri Bimo adalah teman kita. Dan kau peri Bimo. Kau bisa jadi teman bahkan saudara kami tanpa perlu membuat aku dan per Keenan bertengkar. Kita akan bisa bermain bersama dan menjadi teman yang rukun,” kata peri Ken kepada peri Bimo.

“Benarkah kalian masih mau bermain denganku meski aku sudah berbohong?” tanya peri Bimo sambil ragu.

“Tentu saja,” peri Ken enjawab dengan yakin sambil merangkul peri Bimo

“Wah aku senang sekali. Terima kasih banyak.”

“Baiklah. Aku juga mau berteman denganmu. Maaf ya tadi kue yang aku buat sengaja aku masukan garam yang banyak jadi rasanya aneh,” peri Keenan berkata dengan jahil.

“Wah pantas rasanya asin”

“Tapi kamu bilang tadi enak.”

“Hehehe.. iya aku berbohong lagi tadi...”

“Sudah-sudah. Setelah ini kita berteman dengan saling jujur ya agar tetap rukun,” Peri Ken mencoba menenangkan keduanya.

“Baik kak,” kata peri Keenan.

“Yuk sekarang kita main bola dilapangan!” ajak peri Ken.

“Ayo!” sambut peri Bimo dan peri Keenan dengan riang. Akhirnya mereka berteman kembali dan hidup rukun selamanya.

Innerchild. Benarkah Salah Orangtua Kita?


     Akhir-akhir ini banyak orang yang membicarakan tentang innerchild. Dan dalam pembahasannya, seringkali pembicaraan tentang innerchild berkesimpulan bahwa “luka” yang terdapat dalam diri kita berasal dari kesalahan pola asuh orangtua kepada kita. Misalnya karena merasa orangtua mengasuh terlalu keras, terlalu longgar, terlalu mengekang, melibatkan kekerasan fisik, dan berbagai persepsi-persepsi lainnya yang hampir bernada negatif. Pertanyaaannya adalah, benarkah innerchild ini karena kesalahan orangtua?
Sebelum berbicara lebih jauh, sebaiknya kita membahas dulu tentang pengertian innerchild. Seorang psikolog bernama @Ratih Sondari  membahas pengertian innerchild dalam salah satu sesi Kulwapnya sebagai berikut:

“ … Inner child adalah jiwa anak-anak di dalam tubuh orang dewasa. Tubuh kita tumbuh menjadi dewasa dan idealnya jiwa kita juga ikut berkembang dewasa sejalan dengan pertumbuhan tubuh kita. Tetapi, faktanya kebanyakan orang yang disebut dewasa tidak benar-benar dewasa secara keseluruhan. Ada bagian diri anak-anak yang terhambat untuk berkembang ketika kita mengalami frustasi, kecemasan, atau bahkan trauma… 
         Menurut penjelasan ini, innerchild adalah jiwa kekanak-kanakan yang ada di dalam diri karena adanya keterhambatan perkembangan jiwa seseorang. Biasanya hal ini terjadi karena adanya rasa frustasi, kecemasan, atau trauma ketika menjalani suatu fase kehidupan di masa lalu. Dengan kata lain, berdasarkan pengertian ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa innerchild terjadi karena adanya unfinished problem yang terjadi di masa lalu.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara menemukan unfinished problem ini?
Dalam beberapa pembahasan, beberapa pembicara menyarankan untuk membuat semacam “Family LifeLine” yang berkaitan dengan peristiwa psikologis yang terjadi di kehidupan kita. Sebetulnya Family LifeLine ini biasa digunakan dalam dunia medis, yaitu suatu metode dimana kita membuat tentang runtutan kejadian-kejadian yang penting dalam kehidupan pasien yang memengaruhi keseluruhan manajemen penyembuhan penyakit pasien itu sendiri, misalnya apakah terdapat simptom yang sama dalam keluarga, apa saja yang memengaruhi pengambilan-pengambilan keputusan dalam proses pengobatan, dan sebaginya.
Dalam ruang lingkup penyelesaian innerchild, kita bisa mengadopsi Family LifeLine ini dengan cara menuliskan apa saja kejadian-kejadian penting dalam hidup kita yang dirasa memiliki efek yang besar terhadap kehidupan sekarang. Ini salah satu contohnya:



Nah, dengan membuat Family LifeLine seperti ini kita akan lebih bisa melihat keseluruhan hidup kita seolah-olah kita sedang menyaksikan sebuah film. Runut dari awal sampai akhir sehingga kita bisa lebih mudah menemukan unfinished problem tersebut.

     Namun sayangnya, seringkali kesimpulan yang didapat setelah membuat Family LifeLine ini adalah bahwa apa yang terjadi di diri kita sekarang terjadi karena kesalahan penerapan pola asuh orangtua kepada kita seperti yang saya katakan di awal. Ya merasa orangtua terlalu keraslah. Ya merasa orangtua terlalu lembek lah. Ya merasa orangtua terlalu sibuk bekerja dan tidak perduli kepada anaknyalah. Padahal menjadi orangtua bukanlah pekerjaan yang mudah. Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua dan itu semua dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Dan yang lebih penting, tidak ada orangtua yang menginginkan sesuatu yang buruk kepada anaknya. Semua yang orangtua lakukan hakikatnya karena mereka ingin yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Tapi, sebagai seorang anak, terkadang manusia pernah merasa tidak nyaman dengan perlakuan orangtua, walaupun perlakuan tersebut sebetulnya untuk kebaikan mereka, terutama saat masa remaja dan setelahnya. Tapi ini wajar karena pada saat remaja, kita mengalami yang namanya fase idealis. Fase ini adalah fase dimana manusia selalu membandingkan “apa yang terjadi di dalam hidupnya” dengan “apa yang idealnya terjadi”. Hal ini disebabkan karena otak manusia mulai berkembang sehingga mereka bisa berpikir kritis dan mulai bisa mencari sendiri pengetahuan-pengetahuan tentang kehidupan. Namun perkembangan ini beum sepenuhnya sempurna sehingga terkadang pemahaman yang didapat hanya setengah-setengah.. Hal ini yang akhirnya membuat kita sering merasa bete dengan orangtua dan merasa frustasi sehingga menimbulkan innerchild dalam diri kita.

      Nah terus gimana dong?

    Menurut saya, salah satu cara yang paling ampuh untuk menyikapi hal ini adalah dengan cara berempati kepada orangtua kita sendiri, yaitu dengan memperpanjang Family LifeLine yang kita miliki sehingga tidak dimulai sejak kita lahir, tapi dari saat orangtua kita lahir. Contohnya seperti ini:




     Coba kita hayati bersama-sama contoh kasus di atas. Disini diperlihatkan bahwa ada seseorang yang merasakan berbagai keterbatasan hidup akibat kekurangan finansial. Hal ini yang membuat dia bertekad dengan kuat agar anaknya tidak mengalami hal yang sama. Akhirnya, ia berusaha melakukan apapun agar bisa hidup berkecukupan. Namun apa yang ada dipersepsi anak? Bahwa orangtua tidak menyayangi dirinya. Ini yang membuat ia terluka karena merasa dicampakan. Ironis bukan?


Tentu saja kisah semua orang berbeda. Namun dengan membuat life line yqng dimulai dari kehidupan orangtua kita, kita akan lebih memahami apa latar belakang orangtua kita menerapkan suatu pola asuh tertentu sehingga kita bisa lebih bijak menilainya. 

Dari sini kita juga akan tahu bahwa dalam hidup tidak ada yang sempurna. Sedetail apapun kita mempersiapkan kehidupan, pasti ada kekurangannya. Saya menganalogikan situasi ini seperti ketika kita menekan bola karet. Saat kita menekan bola karet, akan ada satu sisi yang tertekan ketika satu sisi menonjol. Untuk itu, menerima kondisi dan kekurangan-kekurangan manusia yang lain dalam hidup merupakan salah satu cara terampuh untuk bisa hidup tenang, termasuk menerima kelebihan dan kekurangan orangtua kita sendiri. Dengan cara itu, kita akan lebih mudah untuk percaya bahwa innerchild hanya sebuah kesalahpahaman yang perlu diterima dan dimengerti, sehingga lambat laun innerchild itupun akan hilang karena jiwa kita semakin berkembang. Wallahu a’lam.

Sumber:
https://sabumihomeschooling.wordpress.com/2018/02/02/resume-kulwap-memutus-bahaya-inner-child-bersama-teh-ratih/





Piknik Yuk, Mak!

 Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata ‘Piknik’? Topi dan kacamata hitam? Tikar dan rumput hijau membentang? Healing ? Kalau b...